Pembongkaran dan relokasi outlet Apotek Century dari lantai I ke lantai II Mall Bali Galeria Kuta Bali.
Adapun lokasinya adalah Bank Permata Dewi Sartika, ATM Permata Bank di Kacang Rahayu, ATM Permata Bank Hardys Sanur, ATM Permata Bank CK. Dyana Pura, ATM Permata Bank CK Sanur, ATM Permata Bank HIS Tour Ubud, ATM Permata Bank Tiara Gatsu...
Pekerjaan proyek Indosat Sukawati Gianyar Bali yakni pembersihan site & pembersihan bongkaran, pekerjaan dinding penahan, dan pekerjaan pagar.
CV. ASTRO, rekanan Bank Permata telah menyelesaikan pekerjaan pengecatan ruangan ATM outsite Bank Permata area Denpasar - Gianyar.
Pengadaan dan Penggantian serta Instalasi unit AC Split Duct 15 PK merk Daikin di Bank Permata Denpasar Bali.
Adapun pekerjaannya meliputi pemasangan Flooring, Meja counter besar, backwall counter, Sticker, Meja counter kecil, kursi, setting audio system, pasang LCD TV Plasma 42", pemasangan backdrop, pemasangan stand lampu, Roll banner, letter timbul tabungan BRI BritAma, dll…
Kami CV. ASTRO, perusahaan kontraktor di Bali yang merupakan salah satu vendor dari Bank Mandiri telah melakukan Pembuatan dan Pemasangan Signboard Mandiri Money Changer di Sanur Bali - Indonesia.
Pengiriman AC DAIKIN 2pk ke Lombok sebenarnya lebih dulu dikirim dibandingkan pengiriman 8 unit AC DAIKIN Floor Standing 5 PK
CV. ASTRO melakukan pekerjaan proyek Indosat yakni Pengecatan (Wall Painting) Branding Produk Indosat (ex. IM3, Starone, Mentari) di lapangan basket sekolah SMA yang ada di Tabanan.
CV. ASTRO dipercaya untuk Pembuatan & Pemasangan Neonbox Bamboomedia di Denpasar Bali. PT. Bamboommedia Cipta Persada sendiri adalah sebuah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis / industri kreatif yang inovatif dan mengembangkan berbagai aplikasi (software) pembelajaran mandiri dan aplikasi bisnis berbasis teknologi informasi terkini.
Display Booth Counter Ariston - Delizia dan Rak (Gondola) Princess untuk Toko UFO Denpasar Bali
Booth Akusisi Mini Stage Untung Beliung BritAma merupakan Mini Stage dalam rangka mendukung acara hiburan Untung Beliung BritAma besutan Bank BRI
Sebagai salah satu sub Dealer Resmi AC DAIKIN di Indonesia, kami CV. ASTRO mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada kami.
Kami CV. ASTRO, salah satu perusahaan kontraktor telah selesai melakukan pekerjaan pembuatan ruang ATM di Bank AntarDaerah (Bank ANDA) Bali. Adapun pekerjaan yang kami lakukan adalah pembuatan dan pemasangan Casing ATM, pemasangan kaca, pemasangan pintu fremlish, pemasangan sticker sandblasting, dan pembuatan neon box.
Berikut adalah hasil kerja kami yaitu Renovasi Toko BONG'S di Monkey Forest Ubud Gianyara Bali.
CV. ASTRO Total Solution dipercaya menangani pembuatan konstruksi Billboard Reklame (Advertising) untuk outlet Rodalink Tabanan Bali.
Kami CV. ASTRO melakukan pekerjaan Pembuatan dan Pemasangan Neon box di Bank BTN cabang Denpasar Bali.
Pembuatan backdrop LG (Life's Good) di Bali dalam rangka acara 2009 Asia Business Solutions Road Show yang diselenggarakan di Bali Indonesia.
Pembuatan Outlet Felice Jewellery Bali dengan lokasi Discovery Shopping Mall Kuta Bali (Centro). Felice adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jual beli berlian dengan berbagai motif dan bentuk.
Pembuatan dan Pemasangan Booth FIO HOME untuk Pameran yang diselenggarakan di Hotel Sanur Paradise Bali - Indonesia tgl 28 April 2010 - 2 Mei 2010
Sebagai vendor dari Bank Mandiri Denpasar Bali, tentu kami sebagai kontraktor Bali akan dan telah memberikan pelayanan yang terbaik dan berkualitas untuk pemindahan Kluise atau Brankas Bank Mandiri.
Kami CV. ASTRO dipercaya untuk melakukan pekerjaan relokasi atau pemindahan mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) Bank Mandiri dari satu lokasi ke lokasi lain dalam area Bali.
CV. ASTRO kembali dipercaya pihak Rodalink untuk pembuatan Booth Panggung Sepeda (stage bicycle) untuk outlet Rodalink Tabanan Bali...
Pekerjaan tahap finishing untuk Konstruksi Billboard Reklame Rodalink di Tabanan Bali Indonesia....
Kami dari CV. ASTRO Total Solution mengucapkan selamat hari Raya Galungan dan Kuningan kepada umat Hindu. Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) memberikan anugerahnya kepada kita semua.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om…Semoga Damai di hati, Damai di dunia, dan Damai selalu

Seputar Galungan
Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, di antaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan. Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.
Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.
Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.
Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.
Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:
1. Hari pertama = Sang Bhuta Galungan.
Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).
2. Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan.
Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.
3. Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat
Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).
Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.
Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.
Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma.
Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.
Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain.
Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.
Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.
Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.
Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.
Kesimpulan :
* Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa.
* Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.
* Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.
* Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.
Om, sampurna ya nama swaha.
Om, sukham bhawantu.
Source : Babad Bali
Trackbacks & Pingbacks